Pengarang dan Karya

Usmar Ismail

Seorang pemuda Minangkabau yang lahir di Bukittinggi,20 Maret 1921. beliau terkenal sebagai seorang dramawan dan cineast (pembuat film).us Dalam dunia sastra ia lebih terkenal sebagai penulis drama. Tetapi beliau mulai masuk ke dunia kesusastraan khususnya dan kesenian umumnya adalah dengan sajak-sajak dan beberapa cerpen. Cerpennya antara lain dimuat dalam Pantjaran Tjinta (1946) dan Gema Tanah Air (1948). Keduannya disusun oleh H. B. Jassin. Sajak-sajak Usmar Ismail sebagian besar kemudian dikumpulkan dan diterbitkan dengan judul Puntung Berasap (1949).

Dalam sajak-sajaknya yang permulaan terasa kepercayaan kepada Jepang, harapan bahwa dengan perantaraan Jepang bangsa Indonesia akan mendapat kemerdekaan. Tetapi hal itu kemudian menemukan kekecewaan. Maka beliau menulis sajak-sajak yang menunjukkan penyerahan dirinya kepada Tuhan. Dalan sajaknya Kita Berjuang beliau dengan lantang menyatakan hasratnya “Beserta saudara turut berjuang!” maksudnya beserta ‘saudara tua’ Dai Nippon. Dan dalam sajaknya Pujangga dan Cita-Cita beliau dengan yakin berkata kepada pujangga “Carilah dulu perjuangan jiwa/Carilah Asia di dalam dada”. Namun tak lama kemudian iapun menulis sajak Diserang Rasa, yaitu timbulnya rasa was-was dan ragu kepada kesungguhan janji dan semboyan Jepang.

Amal Hamzah

Beliau merupakan adik Amir Hamzah yang lahir di Binjai, Langkat, 31 Agustus 1921. dalam sajak-sajaknya yang pertama menunjuk pengaruh abangnya, terutama dalam gaya dan pengucapannya. Beliau kemudian tertarik oleh teosofi dan pengarang India Rabindranath Tagore, beliau menerjemahkan beberapa karya Tagore, yang pernah mendapat hadiah Nobel 1913, antaranya karya utamanya Gitanjali (1947).

Amal mulai menulis di zaman Jepang, ketika beliau kehilangan kepercayaan kepada manusia. Ini terlihat dalam sajaknya yang berjudul Melaut Benciku. Beliau menjadi kasar dan sajak-sajaknya sangat naturalis. Juga dalam sandiwara-sandiwara dan cerita atau sketsa yang ditulisnya, sensulisme sangat kentara. Sajak-sajak dan karangan-karangan lainnya diterbitkan dalam sebuah buku berjudul Pembebasan Pertama (1949).

Rosihan Anwar

Beliau lahir di Padang, 10 Mei 1922. beliau terkenal sebagai seorang wartawan dan komunis terkemuka, pada zaman Jepang menulis beberaparosi sajak dan cerpen. Sajak-sajaknya banyak melukiskan perasaan dan semangat pemuda. Cerpennya yang berjudul  Radio Masyarakat melukiskan kemelut jiwa pemuda yang yang dilanda keraguan atas janji-janji kosong dari Jepang.

Pada tahun 1967, Rosihan menerbitkan sebuah roman berjudul Radja Ketjil,Badjak Laut di Selat Malaka yang merupakan sebuah roman sejarah Semenanjung pada awal abad ke-18.

 

~ oleh jokolelonokosti pada November 5, 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: