SUKU MINANGKABAU

Kebudayaan sebagai penciptaan dan perkembangan nilai meliputi segala apa yang ada di dalam alam fisik, personal dan social, yang disempurnakan untuk realisasi tenaga manusia dan masyarakat. Daya penggerak yang biasanya disebut factor-faktor kebudayaan tidak semuanya memiliki khasiat yang sama, ada yang bersifat mempengaruhi, bersifat syarat, atau pun hanya melenyapkan penghambat-penghambat untuk menciptakan kebudayaan. Factor itu bukanlah sebab, manusialah yang menyebabkan kebudayaan; dialah yang menciptakan nilai dari bahan mentah alam bebas. Akan tetapi dalam hubungan antara manusia dengan alam terdapat banyak situasi konret yang membatasi atau mengakibatkan kebebasannya. Dia belajar secara spontan untuk menyesuaikan diri pada situasi, agar kesempatan untuk menghasilkan nilai dipergunakan.

Seperti halnya yang dilakukan oleh suku Minangkabau yang melakukan migrasi, di mana fungsi dari alam rantau adalah untuk memperkaya dan menguatkan alam Minangkabau sendiri; gagasan ini merupakan dasar dari “misi budaya” yang menggerakkan orang Minangkabau untuk pergi merantau. Mereka mendorong anak mudanya untuk merantau; namun ketika pulang mereka harus membawa sesuatu, harta atau pengetahuan sebagai symbol keberhasilan misi mereka. Kalau tidak, mereka tidak akan diterima oleh masyarakat kampungnya dan dianggap telah gagal menjalankan misinya, sehingga mereka akan malu kembali ke kampungnya karena akan dikucilkan. Tidak ada muka manis bagi perantau yang gagal, mereka harus kembali ke daerah rantau dan berusaha lagi ataularut dalam rantauan dan tidak usah pulang. Inilah akibat dari rantau Cino (migrasi permanen). Jadi mereka harus benar-benar mampu menyesuaikan diri di perantauan dan mendapatkan apa yang menjadi tujuan awal kepergiannya ke alam perantauannya itu, jika memang dihargai oleh masyarakatnya sendiri.

Dalam kehidupan para perantau itu memperlihatkan bagaimana asosiasi-asosiasi (voluntary association) mempengaruhi dan dipengaruhi oleh misi-misi budaya mereka. Asosiasi-asosiasi itu membantu mempertahankan identitas etnik dengan memberikan suatu forum untuk mengekspresikan kepentingan-

kepentingan etnik. Di sana para perantau belajar bagaimana menafsirkan kembali misi-misi budaya mereka dengan cara-cara yang bermakna di daerah perantau, sementara itu mereka dapat menjaga aspek-aspek dari misi budaya tersebut, terutama aspek yang penting untuk mempertahankan identitas etnik mereka.

~ oleh jokolelonokosti pada November 3, 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: