Gegar Budaya (Culture Shock)

Ketika seseorang memasuki dan tinggal dalam sebuah budaya baru pasti akan mengalami kegembiraan maupun depresi. Ia juga akan mengalami gegar budaya (culture shock). Gegar budaya (culture shock) adalah semacam “penyakit” yang terjadi akibat keterlibatan total dalam budaya baru. Penyebab gegar budaya ini diantaranya :

1 rasa cemas karena tidak dapat berbicara dalam bahasa asing,

2  belum mengetahui adat istiadat / kebiasaan yang berlaku,

3  belum mengerti perilaku masyarakat, serta

4  menemukan hal-hal baru yang tidak sesuai dugaannya. Akibatnya, orang tersebut akan merasa tidak yakin dengan apa yang dilakukan,     merasa terjebak dalam pertanyaan “bagaimana”, mudah tersinggung, curiga, dan tidak dapat tidur.

Proses penyesuaian diri ketika masuk dalam budaya asing maupun ketika masuk kembali ke budaya asal memiliki beberapa tahapan sebagai berikut.

a. Ketika masuk dalam budaya asing

–   Periode bulan madu, yaitu ketika seseorang merasa kagum, gembira, dan antusias dengan

segala sesuatu yang baru.

–   Mengalami benturan budaya, yaitu ketika seseorang mulai terbentur pada permasalahan

baru.

–   Tahap awal penyesuaian diri

–   Tahap keterasingan mental, yaitu seseorang menjadi frustasi dan kehilangan rasa percaya

diri.

–   Tahap penerimaan dan penyatuan, yaitu seseorang sudah dapat menerima kebiasaan baru

yang dijalaninya dan sudah bisa menyatu dengan komunitas tersebut.

b. Ketika masuk kembali ke budaya asal

–   Tahap penerimaan dan penyatuan

–   Kembali gelisah

–   Kembali berbulan madu

–   Kembali merasa shock

–   Kembali bersatu dengan budaya asal

Reaksi-reaksi individual setelah mengalami gegar budaya ini antara lain: adanya minat untuk belajar bahasa asing, mengamati perbedaan-perbedaan norma atau kebiasaan di negara tersebut, memahami nilai-nilai atau norma baru.

Etnosentrisme : Gegar budaya adalah pelajaran terbaik dalam memahami perbedaan masyarakat dan budayanya. Seperti yang telah diungkapkan di atas, gegar budaya terjadi karena pendatang baru tidak siap dengan berbagai perbedaan yang ada. Penyebabnya ialah adanya etnosentrisme di setiap masyarakat budaya. Tidak ada satu masyarakat pun yang tidak memiliki sifat etnosentris. Betapapun liberal atau demokratisnya seseorang, ia akan memandang lebih tinggi tentang budayanya. Etnosentrisme memandang bahwa kebudayaan sendiri lebih baik daripada kebudayaan lain. Etnosentrisme juga mempercayai bahwa pola perilaku mereka adalah yang terbaik, paling alami, indah, benar, atau penting. Dengan cara berpikir seperti itu seseorang akan selalu membandingkan kebudayaannya dengan yang lain. Mereka akan selalu menemukan aspek budaya lain yang tidak baik, perbedaan cara berteman, atau juga makanan yang terasa tidak enak. Bagaimanapun, seharusnya kita menyadari dan tidak menghakimi tentang cara hidup budaya lain. Kita seharusnya melihat setiap keadaan secara obyektif.

~ oleh jokolelonokosti pada Oktober 21, 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: